Tips Tembus SNMPTN (bagian 1)

SNMPTN diibaratkan sebagai sebuah permainan kartu, maka kartu yang jadi “modal” kamu adalah
(1)nilai raportmu selama ini dan
(2)indeks sekolah kamu

Itulah memang bedanya SNMPTN dengan SBMPTN, jika di SBMPTN kamu semua betul-betul diuji dengan sistem seleksi yang relatif lebih “fair” dan bisa dikuantifikasi. Sementara itu, dalam proses seleksi di SNMPTN, satu-satunya hal yang masih bisa kamu lakukan adalah “memainkan” kartu yang ada di tanganmu dengan optimal, atau sederhananya : tinggal bagaimana kamu memainkan “taktik menentukan jurusan” atau bahasa kerennya The Art of Choosing.

Ibarat dalam sebuah permainan kartu, kamu tidak dapat benar-benar tahu persaingan semacam apa yang terjadi di jurusan PTN yang kamu bidik. Kamu tidak akan tahu seberapa banyak dan seberapa bagus nilai para lawan main kamu (baca: para pesaing peserta SNMPTN yang lain). Sehingga pada dasarnya, kamu juga tidak akan pernah tahu persis berapa peluang untuk lolos. Tapi meskipun begitu, bukan berarti kamu benar-benar ngasal begitu saja. Meskipun kesannya hanya untung-untungan, main kartu saja ada strateginya. Peluang dalam permainan yang serba tertutup seperti ini, meskipun sulit diukur, tapi kamu tetap bisa memaksimalkannya.

Beberapa hal yang sebaiknya kamu pahami jika ingin mendapat hasil maksimal dalam seleksi SNMPTN adalah:

  1. Indikator Penilaian SNMPTN,
  2. Tips untuk memaksimalkan peluang diterima di SNMPTN, dan
  3. Kesalahan Umum Siswa dalam SNMPTN.

Indikator Penilaian SNMPTN

Selama ini banyak yang menganggap kalau SNMPTN itu ya hanya bagus-bagusan nilai raport, sehingga banyak sekolah yang menaikkan nilai KKM-nya atau “meninggi-ninggikan” nilai siswanya. Banyak anak dari Sekolah antah berantah nilai Fisika atau Ekonominya 95 atau mendekati 100. Sementara di sisi lain, anak-anak dari sekolah tertentu yang cenderung disiplin pada sistem penilaian banyak yang mengeluh karena untuk mendapat nilai 85 di sekolahnya saja susahnya minta ampun.

Setiap sekolah mempunyai standar berbeda-beda mengenai nilai. Ada yang standarnya tinggi ada yang rendah. Ada juga yang dulunya pelit memberi nilai, tapi berhubung SNMPTN memakai nilai raport, maka nilai-nilainya pada diobral. Berdasarkan hal tersebut, kalau PTN hanya melihat mentah-mentah nilai raport, tentu siswa yang lolos belum diseleksi secara fair. Maka dari itu, selain nilai raport dilihat juga faktor lain, yaitu: indeks sekolah. Dalam kalimat lain, PTN pun selain melihat nilai yang ada di raport juga akan melihat siapa pihak yang mengeluarkan raportnya.

Sebenarnya penilaian SNMPTN dilakukan secara tertutup, jadi indikator penilaian tidak akan dipublikasikan secara rinci. Tapi ada juga beberapa PTN yang mempublikasikan kriteria penilaian mereka, itupun hanya kriteria yang umum. Berikut ini beberapa hal yang (kemungkinan besar) menjadi kriteria penilaian SNMPTN:

1. Faktor Kualifikasi Siswa

merupakan capaian siswa selama sekolah, dengan beberapa poin yang bisa menjadi penilaian antara lain:

  • Nilai raport, meliputi besar nilai, konsistensi, rata-rata, nilai mapel tertentu
  • Prestasi siswa: tingkat internasional, nasional, propinsi, kabupaten/kota, tidak ada prestasi.

2. Faktor Indeks Sekolah

merupakan nilai sekolah di suatu PTN. Indeks SMA X di PTN A bisa berbeda dengan indeks SMA X di PTN B. Beberapa poin yang bisa menjadi penilaian untuk kategori ini antara lain:

  1. Akreditasi: A, B, C, Tanpa akreditasi
  2. Jenis kelas: Akselerasi, RSBI, Reguler
  3. IPK dan prestasi alumni di PTN yang dituju di PTN yang bersangkutan
  4. Nilai SBMPTN tahun sebelumnya di PTN yang bersangkutan
  5. Junlah siswa yang diterima di SNMPTN tahun sebelumnya di PTN yang bersangkutan
  6. Track record sekolah di PTN yang bersangkutan
  7. Prestasi sekolah dalam perlombaan tingkat daerah/nasional/internasional.

3. Faktor Pemerataan Daerah

merupakan kebijakan PTN untuk memberikan kuota/jatah kepada daerah yang kelak setelah lulus diharapkan bisa memajukan/berkontribusi untuk daerah asal. Jadi bisa jadi beberapa siswa di daerah terpencil di Indonesia mendapatkan “jatah” daerah, meskipun sebetulnya nilai raport dan indeks sekolah mereka relatif tidak sebaik para pesaing peserta SNMPTN lain yang ada di kota besar.

4. Kuota khusus daerah

cobalah cek siswa yang diterima di SNMPTN (ataupun SBMPTN) berdasarkan asal daerah (provinsi) SMA-nya. 50% bahkan hingga 90% dari daya tampung yang disediakan diisi oleh siswa yang se-provinsi dengan PTN. Contohnya UNPAD, lebih mengutamakan menerima siswa dari provinsi Jawa Barat dan Unair menyatakan mahasiswanya mayoritas dari SMA kota Surabaya (pernyataan rektor UNAIR saat sosialisasi SNMPTN). Jadi pertimbangkan lagi jika ingin memilih PTN di luar provinsi SMA kamu, karena peluangnya lebih kecil.

Perlu diingat, bahwa faktor penilaian di atas merupakan perpaduan dari berbagai PTN. Artinya bisa saja PTN A tidak memperhitungkan Nilai SBMPTN tahun sebelumnya misalnya atau PTN B tidak memperhitungkan Prestasi Sekolah, atau bahkan ada kriteria penilaian lain di luar poin di atas.

Bersambung ke- Tips untuk memaksimalkan peluang diterima di SNMPTN 2015


dikutip dengan pengubahan bahasa dan penambahan isi dari http://www.zenius.net

Info

Satu respons untuk “Tips Tembus SNMPTN (bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s